Ada yang masih ingat reality show Korea berjudul The Return Of Superman (TROS)? Program televisi yang menceritakan tentang kehidupan ayah dengan anak-anak tanpa sang ibu selama 48 jam. Ibu akan diminta pergi dari rumah sementara dan ayah akan bertugas menjaga anak-anaknya.
Apa yang terjadi?
Saya sebagai penonton tergelak saat Song Il Kook tergopoh mengganti popok ketiga kembarnya. Sekaligus kagum ketika aktor Korea ini berhasil menyuguhkan makanan tepat waktu sembari mengawasi anak-anaknya bermain.
Saya juga ikut gemas dengan Choo Sarang, anak dari pasangan Petinju Korea dan model Jepang, yang imut dan pintar dua bahasa. Ya ya, saya aktif menonton TROS di awal-awal kemunculannya sehingga hanya mengenal anak-anak generasi pertama.
Secara umum, reality show ini mampu merebut hati pemirsa mulai dari dalam negeri Korea sendiri hingga ke mancanegara. Keriwuhan, kepanikan sekaligus kepiawaian bapak-bapak itu sangat dinikmati penonton. Apalagi konsepnya memang real sehingga kejadian yang terekam betul-betul murni tanpa dibuat-buat.
Terobosan Korean Brodcasting System (KBS) ini memang mampu menciptakan trend baru. Yaitu trend bahwa sang ayah memang punya kemampuan dalam mengasuh anak. Kemampuan ini tentu saja sesuai dengan karakter ayah.
Dan inilah yang menjadi tujuan utama TROS yaitu mengungkapkan bagaimana sang ayah bisa mengasuh buah hatinya sendirian dan meskipun pekerjaan mereka tak seperfect ibu namun selalu ada ketulusan dan cinta dalam setiap tindakannya.
Under patriarchy, no woman is safe to live her life, or to love, or to mother children (Andrea Dworkin, penulis Amerika)
Reality show ini justru mengingatkan kita tentang betapa anak merindukan sosok ayah di rumahnya. Ayah yang betul-betul hadir dalam kehidupannya bukan sekedar ayah yang memberi materi dan nafkah. Bahkan ayah adalah sosok utama yang bisa menguatkan tauhid anak, kepercayaan diri, keberanian dan lain sebagainya.
Sejak periode Joseon, Korea Selatan memang sudah menganut falsafah dan ideologi bahwa Pria Tinggi, Perempuan Rendah. Hal ini juga diperkuat dengan ajaran konfusianisme yang menentukan bagaimana peran perempuan dan laki-laki dalam kehidupan sosial dan pekerjaan. Budaya patriariki di negeri ginseng ini kuat.
Sebagai sesama negara timur, Indonesia tak jauh berbeda dengan Korea. Bahkan di beberapa daerah tertentu, kelahiran anak laki-laki sangat begitu diharapkan dan ditunggu-tunggu.
Budaya patriarki membuat para laki-laki akhirnya tidak akrab dengan keluarganya sendiri. Malahan laki-laki yang terjun membantu urusan rumahtangga dipandang aneh dan tidak jantan.
Dan akhirnya muncullah cap fatherless country untuk Indonesia. Saat peran bapak, ayah dan laki-laki tak ada didalam kehidupan istri dan anak perempuannya.
Timbul perempuan-perempuan perkasa yang mengerjakan kerumahtanggaan, mendidik anak sekaligus sebagai tulang punggung keluarga. Hiiks sedih banget ya.
Makanya saya senang sekali dengan agenda parenting keayahan yang diadakan oleh Yayasan Nurul Islam Palopo kemarin. Bahkan katanya ini adalah parenting keayahan pertama yang diselenggarakan di Sulawesi Selatan.
Awalnya gak expect bisa mengikuti seminar parenting hari ini sebab temanya adalah tentang Keayahan. Tema menarik dan jarang sekali didiskusikan sehingga membuat kepo. Soalnya lihat bapak-bapak kumpul lalu menggosip bersama itu juga pemandangan yang sangat jarang ya.
Menjelang kegiatan, pihak penyelenggara memberi tahu bahwa seminarnya terbuka juga untuk oleh para istri. Akhirnya kami berangkat sekeluarga. Ya, berangkat berempat dengan duo N yang sedang aktif-aktifnya.
Peran Ayah Dalam Keluarga
Alhamdulillah, meski acaranya khusus untuk ayah namun banyak sekali insight yang saya dapatkan terutama bagaimana peran ayah dalam keluarga. Yuk highlight bareng-bareng dan semoga bisa bermanfaat.
1. Sebagai Pemimpin
Sosok tertinggi dalam keluarga adalah ayah sehingga dapat memberikan arahan dan teladan dalam mengambil keputusan. Kepemimpinannya inilah yang membuat sebuah keluarga dapat terus berlayar meski ombaknya kencang atau ada badai besar menghantam.
2. Sebagai Pelindung
Salah satu hal yang dapat membuat rumah tentram adalah keamanan dan kenyamanan yang tercipta. Rasa ini tak hanya berupa fisik namun juga emosional.
Perlindungan ayah inilah yang membentuk kepercayaan diri seorang istri atau anak di luar rumah.
3. Sebagai Penyedia
Tak dapat dipungkiri bahwa fungsi utama ayah adalah sebagai pemberi nafkah utama dalam memenuhi kebutuhan dasar keluarga. Inilah tugas terberat tapi juga peran kemuliaan untuk ayah.
4. Sebagai Pembimbing Spiritual
Ayah mungkin tak perlu menjadi sosok ustadz untuk keluarganya namun harus mampu membimbing anak untuk memahami tujuan hidup dam hubungan dengan Tuhan.
Bagaimana Menguatkan Peran Ayah Dalam keluarga
Siapa yang perutnya rata? tanya coach Rizqi sebagai pemateri kepada peserta. Beliau lalu memperlihatkan video Umar bin Khattab yang marah kepada seorang bapak karena merasa bangga dengan perut besarnya. Kata sang Khalifah, hati-hati bahwa perut besar adalah azab dari Allah SWT.
Kadang ada beberapa keuntungan juga jika berperut besar seperi dapat menjadi mainan anak atau sebagai tempat duduk jika sedang gendong anak. Tapi, perut besar menandakan bahwa ada lemak berlebih yang tersimpan sehingga bisa menjadi biang penyakit.
Perut besar biasanya juga identik dengan bentuk tubuh yang kurang proporsional dan sebaliknya. Akibatnya, sang ayah biasanya kesulitan bergerak, mudah capek, mudah mengantuk dan sebagainya.
Berbeda jika ayah suka berolahraga dan menjaga pola makan. Lebih fit, ukuran proporsional dan punya kesempatan lebih lama untuk melihat anak-anaknya. Insyaallah.
Ya, ayah harus kuat dalam menjalankan fungsinya sehingga tak cukup dengan spiritualitas yang baik saja namun juga fisik prima.
Ayah, are you ready?
Posting Komentar
Posting Komentar